Gue lagi memikirkan untuk memasukkan beberapa fitur baru nih *cie gaya lo stell kaya ada yang baca aja*. Antara lain, gue mau bikin cerpen buat di publish di sini loh. Terus gue mau bikin artikel tentang cara belajar, berhubung udah mau deket masuk sekolah ehehe. Jadi keep your eyes yah siapa tau ngeliat posting cerpen gue atau artikel-artikel lainnya.
Oke, langsung aja ya, di bawah ini ada cerpen gue nih judulnya tobat sambel awalnya haha, but noo this isn't comedy.
****
Lidah Australia Ef berdecap kira-kira yang kedua puluh lima sejak mangkuk mie ayam ini ada di depannya.
Tyo memamerkan gigi gerahamnya yang baru dicabut melihat pemandangan di depannya itu. "Mungkin harusnya aku membawamu ke restoran, ya." Gumamnya.
Ef balik memamerkan lidahnya, "Tidak, this is the best, you know!"
"Aku tidak mau tahu ya, kalau kamu sakit perut nantinya." Tyo cengengesan dan menyantap siomay nya.
"Whatever! Toh nantinya harus kamu juga yang mengurusiku." Ef menyeruput teh botol di depannya. "This is delicious."
Kadang aku-kamu Tyo dan Ef yang khas pacaran mengganggu jalan pikiran Tyo sendiri. Lalu sedetik kemudian Tyo menggeleng-gelengkan kepalanya. Bahkan berbicara dengan bahasa gaul sedikit saja akan membuat Ef mengernyit. Agak susah berbicara dengan orang asli Australia.
"Ty, Bahasa Indonesianya 'wants more' apa?" Ef berkata dengan aksen Australianya.
"Hah?"
"I want more chilli." Ef meraih tissue dan mengelap mukanya sendiri.
Kontan Tyo tertawa. "Chilli? Ya ampun, Ef!"
"Yeah, what you call it? Sambal?" Ef mengaduk-ngaduk mie ayamnya.
Tyo tau benar kalau kemauan anak satu ini tidak dipenuhi bisa susah kehidupannya besok. Maka diambilkanlah sebotol cabe dari meja sebelah. "Nih."
"Apa itu nih?" Ef memiringkan wajahnya.
"Means, here, this. Like that." Tyo menumpahkan lagi kecap di atas siomaynya yang hampir habis.
Kalau saja bos Tyo tidak bule, dia tidak akan malam dengan gadis yang satu ini. Oke, paling tidak, kalau saja bos nya tidak punya anak seperti Ef, mungkin Tyo ada di kos-kosannya bermain gitar.
"Next time I want try something you called ‘martabak’. Okay?” Ef menyeruput habis teh botolnya. “Wants more! What you called it?”
“Mau lagi.” Tyo lalu memberikan tanda pada pelayan untuk meminta teh botol yang ketiga untuk Ef. “Kau bisa kekenyangan, dan kembung.” Tyo cepat-cepat mendefinisikan kekenyangan dan kembung untuk Ef.
“Ya, dan martabak?” Ef tersenyum pada pelayan genit yang barusan lewat. Tyo memutar bola matanya. Bisa klepek-klepek dia di belakang sana, pelayan malang, pikir Tyo.
“Martabak? Take away, yes.” Tyo memanggil pelayan untuk membayar siomay nya yang sudah selesai.
“Apakah ayahku akan menyukainya, menurutmu?”
“Eh?” Tyo menggaruk-garuk kepalanya. Bos nya tentu sama keras kepalanya dengan Ef. “Mungkin, Ef. Bawakan saja.”
for your information, ini cerpen kok sebenernya dan masih dalam tahap first draft. Dan jangan kaget kalo ngeliat cerpen ini kalo ada di buku aku ya, later. wish for me :D
just wait for lanjutannya yah.
lop lop lop,
stellacyan.





pas nonton di situ. Di belakang gue ada seorang cowok yang perkiraan gue di rumah sama enyaknya baru diajarin bahasa inggris. Dikit-dikit ada aja kata-kata gaul yang keluar.
. Yah, si cowok gaul itu pas gue nengok ke belakang ternyata bukan di belakang gue. Tapi di belakang adek gue persis.
.
.
.
lop yu.
.
.


jadi gue udah resmi nih bebas dari cinta-cintaan begitu. HUAHAHAHA senangnya hatikuu.
kaya gitu deh kira-kira.


















